Jakarta (KABARIN) - Kebiasaan tidur terlalu malam ternyata bisa jadi penghambat besar buat kamu yang lagi berjuang nurunin berat badan. Meski sudah diet dan rutin olahraga, pola tidur yang berantakan tetap bisa bikin hasilnya jauh dari harapan.
Tidur larut malam mengacaukan ritme alami tubuh. Dampaknya bukan cuma soal capek, tapi juga berpengaruh ke metabolisme, hormon, dan sistem pencernaan.
Dokter spesialis penyakit dalam dari Jupiter Hospital India, dr. Amit Saraf, menjelaskan bahwa begadang bisa menggagalkan usaha diet bahkan pada orang yang sudah disiplin jaga makan dan rajin olahraga.
Menurutnya, tubuh punya jam biologis sendiri. Saat lewat sekitar pukul 22.30, sistem pencernaan mulai melambat secara alami. Kalau seseorang masih terjaga, tubuh justru masuk kondisi stres dan kadar kortisol meningkat.
"Setelah sekitar pukul 22.30, tubuh perlahan memasuki fase alami 'perlambatan pencernaan'. Jika seseorang tetap terjaga hingga larut, tubuh berada dalam kondisi stres, yang meningkatkan kadar kortisol," ia menjelaskan.
Kortisol sendiri adalah hormon stres yang bikin tubuh terasa lebih siap dan waspada. Tapi efek sampingnya, proses metabolisme normal jadi terganggu. Akibatnya, pembakaran lemak melambat dan penyimpanan lemak justru makin mudah terjadi.
"Ketika kortisol tetap tinggi di malam hari, penyimpanan lemak menjadi lebih mudah dan pembakaran lemak menjadi lebih lambat, tidak peduli seberapa sehat makanan yang dikonsumsi," kata dr. Saraf.
"Inilah sebabnya orang yang makan dengan baik pun masih kesulitan menurunkan berat badan...," ia menambahkan.
Tubuh juga punya waktu emas untuk perbaikan metabolisme, yaitu sekitar pukul 23.00 sampai 03.00. Kalau jam tidur terus mundur, fase ini jadi terganggu dan memicu kekacauan metabolisme.
"Kontrol gula menjadi lebih lemah, hormon lapar menjadi bingung, dan keinginan makan meningkat keesokan harinya," kata dia.
Efeknya bisa terasa keesokan hari. Nafsu makan jadi lebih besar, keinginan ngemil meningkat, dan kontrol gula darah jadi tidak stabil. Bahkan sarapan sehat pun bisa memicu lonjakan insulin lebih tinggi kalau malam sebelumnya tidur terlalu larut.
Selain itu, begadang juga memengaruhi proses detoks alami tubuh. Kalau sering tidur lewat pukul 23.00, pencernaan bisa jadi lebih lambat, perut gampang kembung, dan proses pembersihan alami tubuh ikut terganggu.
Untuk mengatasinya, dr. Saraf menyarankan perubahan jam tidur secara bertahap. Waktu tidur bisa dimajukan sekitar 15 sampai 20 menit setiap malam sampai tubuh terbiasa tidur lebih awal.
Ia juga menyarankan agar makan malam tidak terlalu larut, menghindari makanan berat di malam hari, mengurangi waktu menatap layar, serta membuat suasana kamar lebih redup agar kualitas tidur makin baik. Dengan tidur lebih teratur, usaha menurunkan berat badan bisa jadi jauh lebih efektif dan hasilnya lebih terasa.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026